MATA SULSEL, JENEPONTO – Di sudut Tribun, di Parang Passamaturukang, Bontosunggu, seorang pria bersetelan rapi duduk di Warung makan nasi kuning milik mantan preman Irfan Dg. Kijang (38). Pria itu sedang mengedukasi terkait aplikasi perbankan dengan ponsel. Bukan sedang bermain game atau menonton video, mereka justru tengah belajar cara memindahkan uang tanpa salah pencet.
Pria itu adalah Ari Kusmayadi, Pimpinan Cabang BRI Jeneponto. Hari itu, Selasa (12/5/2026), ia memilih keluar dari ruangan ber-AC dan langsung berbaur dengan nasabah di lapangan. Misinya sederhana namun krusial, memastikan setiap nasabah memahami cara aman menggunakan aplikasi BRIMo.
Awalnya, skeptis. Banyak nasabah, terutama masyarakat, mengaku takut menggunakan aplikasi perbankan. “Takut salah pencet, takut uang hilang,” ujar Irfan, pemilik warung nasi kuning yang sukses berkat KUR BRI.
Ari tersenyum. Tanpa menggurui, ia mulai menjelaskan satu per satu. Ibarat guru taman kanak-kanak, ia menunjukkan bagian paling dasar: bagaimana membuka aplikasi, memasukkan PIN, hingga memastikan logo BRI asli bukan palsu.
“BRIMo itu aman, pak. Tapi kita harus tahu cara pakainya. Jangan pernah kasih kode OTP ke siapa pun. Itu kuncinya,” ujar Ari dengan sabar, sambil sesekali mempraktekkan langsung di ponsel milik Irfan yang tampak ragu.
Momen itu menjadi titik balik. Wajah-wanita yang semula tegang perlahan berubah cerah ketika berhasil melakukan transaksi pertama mereka secara mandiri. Tepuk tangan spontan pecah. Ada tawa, ada rasa bangga yang muncul di wajah mereka.
“Saya pikir susah, ternyata mudah sekali. Saya jadi berani transfer sendiri sekarang,” kata Irfan sambil tersenyum lebar.
Ari menegaskan bahwa keamanan BRIMo bukan hanya tanggung jawab pihak bank, melainkan juga nasabah. Pihak BRI, kata dia, telah menyediakan sistem berlapis: PIN, password, OTP, dan deteksi perangkat asing. Namun, tanpa edukasi yang tepat, semua fitur itu menjadi sia-sia.
“Kami tidak ingin nasabah hanya tahu cara transaksi, tetapi juga paham bagaimana melindungi diri dari kejahatan digital. Edukasi harus sampai ke akar rumput,” tegas Ari.
Bukan sekali ini. Dalam dua bulan terakhir, Ari mengaku telah menggelar setidaknya 10 sesi edukasi di berbagai titik di Jeneponto, mulai dari pasar tradisional, perkantoran, hingga komunitas ibu-ibu PKK. Targetnya sederhana tidak ada lagi nasabah BRI yang menjadi korban penipuan digital karena ketidaktahuan.
Menurut data internal BRI Cabang Jeneponto, angka pengguna BRIMo di kabupaten ini meningkat 35% dalam setahun terakhir. Namun, di sisi lain, laporan kasus penipuan yang melibatkan modus sosial juga sempat naik. Hal inilah yang mendorong Ari untuk langsung turun tangan.
“Kami ingin angka kejahatan digital turun, bukan karena orang takut pakai BRIMo, tapi karena mereka paham cara aman menggunakannya,” tambahnya.
Mungkin, di era digital ini, yang paling dibutuhkan bukanlah teknologi yang semakin canggih, melainkan manusia yang peduli untuk menjembatani kesenjangan antara teknologi dan penggunanya.
Ari Kusmayadi adalah salah satunya. Seorang pimpinan yang rela duduk di setiap sudut kota dalam kondisi apapun baik di pasar, perkantoran, pangkalan ojek untuk menjadi guru dadakan, dan mengingatkan kita semua bahwa di balik layar BRIMo yang aman, ada hati yang tulus untuk melayani.
Dua tahun lalu, Rohana (40) masih menjadi nasabah “tradisional” sejati. Setiap kali butuh uang, ia harus antre di teller BRI. Setiap kali ingin transfer ke anaknya yang kuliah di Makassar, ia rela menyisihkan waktu setengah jam hanya untuk mengisi slip.

“Saya takut. Aplikasi itu buat saya pusing. Lebih baik pegang uang tunai, pegang buku tabungan,” kenang Rohana.
Namun, hari ini, Rabu (12/5/2026), Rohana berdiri santai di kiosnya sambil memegang ponsel. Dengan sekali sentuh, ia berhasil mentransfer uang jajan untuk anaknya tanpa harus meninggalkan kios dagangannya.
“Ini pertama kali saya transfer sendiri. Saya bangga sekali. Ternyata gampang,” ucapnya dengan wajah sumringah.
Rohana adalah satu dari warga Jeneponto yang perlahan tapi pasti beralih ke aplikasi BRIMo. Perubahan ini bukan tanpa cerita. Di balik kemudahan yang dirasakan, ada perjuangan melawan rasa takut, kebingungan, dan kebiasaan lama yang mengakar kuat.
Sama halnya, dengan Siti Rahma (34), seorang ibu rumah tangga, Desa Punagayya, Kecamatan Bangkala yang juga menggunakan aplikasi BRIMo sejak 4 bulan lalu.
“Saya dulu setiap bulan harus ke kota hanya untuk ambil uang kiriman suami yang kerja di Kalimantan. Ongkosnya Rp50 ribu pulang-pergi, ditambah waktu habis setengah hari. Belum lagi kalau antrean panjang, bisa seharian,” jelas Rahma.
Sejak diajari pakai BRIMo oleh petugas BRI yang datang ke desa, saya tidak perlu ke kota lagi. Suami transfer langsung ke rekening, saya tarik lewat agen BRILink di dekat rumah. Waktu yang dulu habis di perjalanan, sekarang bisa buat main sama anak-anak.
Yang saya suka, aplikasinya tidak ribet. Saya bisa lihat saldo, cek mutasi, transfer, dan bayar tagihan listrik tanpa harus ke luar rumah. Saran saya, jangan takut belajar. Awalnya memang bingung, tapi begitu bisa, rasanya sangat membantu.
Begitu pula dengan Daeng Nai (46), pemilik toko sembako di Pasar Karisa, Bontosunggu. Ia menggunakan aplikasi BRIMo sejak 1 tahun yang lalu.
“Saya pemilik toko sembako di pasar. Dulu, kalau ada pembeli yang mau transfer, saya harus tinggal toko, pergi ke ATM atau ke bank. Kadang pembeli jadi pergi karena saya minta waktu. Saya rugi,” katanya.
Sekarang, dengan BRIMo, pembeli bisa transfer langsung ke rekening toko saya. Notifikasinya muncul cepat di ponsel. Saya tidak perlu tinggal toko. Transaksi jadi cepat, pembeli puas, omzet saya naik.
Saya juga pakai BRIMo untuk bayar setoran ke supplier. Tidak perlu bawa uang tunai dalam jumlah besar, cukup transfer lewat aplikasi. Aman dan praktis.
Yang paling penting, BRIMo membantu saya mengatur keuangan usaha. Saya bisa lihat riwayat transaksi kapan saja, jadi tahu pemasukan dan pengeluaran harian. Ini membantu banget buat usaha kecil seperti saya, ucapnya.
Hal yang sama juga di rasakan Hj. Maryam (67), seseorang pensiunan guru, di Tanrusampe, Kelurahan Biringkassi, Kecamatan Binamu. Maryam adalah pengguna BRIMo sejak 2 Minggu lalu setelah di edukasi.
“Saya ini orang tua yang gagap teknologi. Ponsel pintar saja baru bisa pakai setahun terakhir, itu pun cuma untuk telepon dan WhatsApp. Waktu anak saya bilang, ‘Bu, pakai BRIMo saja untuk ambil pensiun,’ saya langsung bilang tidak mau,” jelasnya.
Takut salah pencet, takut uang hilang, takut kena tipu. Itu pikiran saya dulu.
Tapi kemarin, ada petugas BRI yang mendatangi saya pas saya ambil uang pensiun di BRI Cabang Jeneponto. Beliau sabar banget ngajarin saya. Dari cara buka aplikasi, cara lihat saldo, sampai cara transfer. Saya disuruh coba sendiri dengan didampingi.
Ternyata… saya bisa. Alhamdulillah. Saya jadi tidak perlu antre lama di bank setiap bulan. Cukup di rumah, cek saldo, kalau perlu uang tunai, tinggal ke agen BRILink dekat masjid.
Pesan saya untuk teman-teman seusia saya, jangan malu belajar. Anak muda bisa, kita juga bisa. Yang penting ada yang membimbing. Saya buktikan, di usia 67 tahun, saya bisa pakai BRIMo, pungkasnya.

Kemudian Sampara (45), seorang petani jagung di Desa Arungkeke merupakan pengguna BRIMo sejak 6 bulan lalu.
“Saya petani. Dulu, setiap kali panen dan dapat uang dari tengkulak, saya harus ke kota untuk setor ke bank. Jarak rumah ke kota 15 kilometer, ongkos motor bolak-balik Rp45 ribu. Belum lagi kalau hujan, jalan rusak, bisa susah.
Sekarang, tengkulak transfer langsung ke rekening saya. Saya bisa cek saldo lewat BRIMo di ponsel. Kalau mau ambil uang tunai, ada agen BRILink di desa sebelah, cuma 1 kilometer dari rumah.
Yang paling sering saya pakai adalah fitur transfer untuk kirim uang ke anak saya yang sekolah di Makassar. Dulu saya titip lewat orang, sekarang tinggal transfer sendiri.
Saya juga bisa bayar listrik dan beli pulsa lewat BRIMo. Tidak perlu ke konter, tidak perlu ke PLN. Semua dari rumah.
BRIMo ini sangat membantu petani seperti saya yang tinggal di desa. Kami tidak perlu keluar biaya transportasi dan waktu hanya untuk urusan bank.”
Cerita lain seorang anak muda bernama Fauzan (22), Mahasiswa Universitas Negeri Makassar, asal Jeneponto. Pengguna BRIMo sejak 2 tahun lalu.
“Sebagai anak muda, saya sudah pakai BRIMo sejak dua tahun lalu. Buat saya, aplikasi ini bukan sekadar alat transaksi, tapi gaya hidup. Semua bisa diatur dari ponsel,” ujarnya.
Saya pakai BRIMo untuk terima uang kiriman orang tua, bayar UKT kuliah, transfer teman, beli kuota, bayar BPJS, sampai investasi reksadana BRI. Cukup buka aplikasi, semua selesai.
Keamanannya juga saya rasa baik. Ada PIN, ada password, ada verifikasi wajah, dan OTP. Selama kita tidak kasih data pribadi ke orang lain, Insya Allah aman.
Saya juga senang karena BRIMo terus update. Fiturnya makin lengkap. Sekarang sudah ada QRIS, bisa bayar di mana-mana. Teman-teman saya di Makassar juga rata-rata pakai BRIMo.
Untuk anak muda Jeneponto, saya sarankan segera beralih ke BRIMo. Lebih praktis, lebih hemat waktu, dan lebih kekinian. Jangan mau ketinggalan zaman, pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan